Oleh : Qeen Mahdy
Bodoh,
Adalah kamu
daging busuk.
Tergeletak sepi
di perut pantai.
Lalat hijau
tak lagi suka bangkai.
Maret 2009
HIDUP, HIDUP
Manusia,
Rileka hidup tak mempunya
Seperti kecoak dan nasi basi.
Dicipta untuk menyembah
Dibunuh untuk disiksa.
Maret 2009
MESTI SEEKOR NYAMUK
Manusia bengak
Tak mesti seekor nyamuk
Duduk mekur di kotoran kuda
Harap do’a menjadi darah.
Maret 2009
LAPAR, LAPAR
Lapar,
Bukan Tuhan pencipta
Lapar,
Bukan firman berkata
Lapar,
Bukan fatwa berdakwah
Lapar,
Bukan penyair berkarya
Lapar,
Adalah perutku
dalam
sewindu.
Maret 2009
ARWAH
Sebuah jendela
Masih terbuka
Sejak kata mulai dicipta.
Angin menderu
Menggoyangkan daunnya
Wajah Asmira
Masih menggantung di sana.
Maret 2009
DANAU MUSIM HUJAN
Puisi ini untuk Bapakku,
yang sedang mengayuh sepeda
di jalan-jalan berlubang,
sekitar Ciputat-Tangerang.
Sore ini turun hujan
Demikian lebat kata peramal
Induk itik telah menyiapkan pesta
Meninggalkan eraman di dalam sangkar.
Cepat pulang Pak,
Sebelum mas Agung memanggil Tuhan
Danau akan segera menguap
Uang receh tak cukup menyewa kapal.
Maret 2009



Tidak ada komentar:
Posting Komentar